BREAKING NEWS

From our Blog

Showing posts with label Fisika. Show all posts
Showing posts with label Fisika. Show all posts

Pengamatan Batuan dan Gua Karst Gunung Kidul



A.     Fisika


1.       Judul                                  : Pengamatan Batuan dan Gua
2.       Mata Pelajaran                   : Fisika
3.       Kelas/Semester                   : X/2
4.       Waktu                                 : 2X45 menit
5.       Petunjuk Belajar                   :
a.       Lakukan pengamatan di Museum Karst Indonesia, yang letaknya di desa Gebangharjo Kecamatan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri, 45 km di selatan kota Wonogiri. Museum ini menggambarkan khasanah karst dengan keunikan goa-goa di Pracimantoro.
b.      Setelah melakukan pengamatan dan pencatatan data, kemudian amatilah lingkungan sekitar museum karst, ambil foto-fotonya untuk melengkapi bukti pembuatan laporan.
6.       Kompetensi yang akan di capai : Siswa mampu menjelaskan keadaan dan gua karst di museum Wonogiri.
Tugas :
1.       Kawasan karst di Pracimantoro diilai terbaik oleh para ahli sejarah dan geologi karena telah memenuhi kriteria keberagaman gua-gua, struktur lapisan tanah,dan panorama alam yang khas. Kawasan yang ada di tempat lain, hal-hal apakah yang menyebabkan lebih baik jelaskan!
Kawasan karst di Pracimantoro dinilai terbaik oleh para ahli sejarah dan geologi karena telah memenuhi kriteria keberagaman gua-gua, struktur lapisan tanah, dan panorama alam yang khas. Kawasan karst di wilayah ini dinilai lebih baik daripada kawasan karst yang ada di Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Gunung Kidul. Kawasan karst di Wonogiri selatan terdapat di Kecamatan Pracimantoro, Eromoko, Paranggupito, Giritontro, dan Giriwoyo. Kawasan ini berciri khas banyak memiliki gua-gua berstalaktit dan stalakmit dengan nilai alami yang menarik. Di Desa Gebangharjo Kecamatan Pracimantoro - yang menjadi pusat penelitian kawasan karst - terdapat puluhan gua yang unik dan menakjubkan. Di sana terdapat Gua Tembus, Gua Mrica, Gua Sodong, Gua Potro, Gua Sapen, dan Gua Gilap. Berdasarkan penelitian para ahli sejarah dan geologi, kawasan gua-gua di Pracimantoro Wonogiri layak dijadikan sebagai Museum Kawasan Karst Dunia.
Keberadaan gua-gua itu menyimpan kisah perjalanan kehidupan manusia sejak zaman prasejarah hingga zaman kerajaan. Selanjutnya cerita itu berkembang di masyarakat dan menjadi sumber sejarah. Cerita rakyat ini sangat menarik untuk selalu digali sebagai bahan pendidikan dan penanaman nilai-nilai positif bagi generasi penerus. Buku ”Sejarah Karst dan Cerita Tentang Gua-Gua” ini layak dijadikan bacaan bagi kalangan pelajar dan masyarakat luas.
Kawasan karst di Pracimantoro Wonogiri – dengan ciri khas beragam gua-gua dan panorama alam yang indah ini - kelak akan dijadikan sebagai tempat penelitian ilmiah dan wisata alam yang tiada duanya di Indonesia, bahkan di dunia. Tempat-tempat itu sangat bagus untuk dikunjungi oleh kalangan peneliti, wisatawan, dan pecinta alam.
Pengamatan Batuan dan Gua Karst Gunung Kidul
Batuan dan Gua Karst Gunung Kidul
2.       Kondisi daerah wonogiri memang terdiri atas dataran dan bukit-bukit bergunung. Berapa titik elevasi (ketinggian tempat) terendah dan tertinggi dari permukaan laut ? Jelaskan jawaban Anda !Titik elevasi (ketinggian tempat) terendah 127 meter dan tertinggi 1.300 meter dari permukaan laut. Kondisi topografi demikian ini cukup rawan terhadap erosi tanah. Adanya perbedaan elevasi yang relatif tinggi tersebut, di Wonogiri banyak dijumpai lereng terjal dengan derajat kemiringan cukup tinggi.

3.       Kawasan Wonogiri selatan yang topografinya berbukit-bukit dan terkenal sebagai deret pegunungan kapur selatan terdapat banyak telaga alam. Hitunglah berapa jumah telaga alam dan luasnya berapa? Kawasan Wonogiri selatan yang topografinya berbukit-bukit dan terkenal sebagai deret pegunungan kapur selatan terdapat 109 telaga alam dengan luas sekitar 117,5 hektar. Potensi telaga alam ini dijadikan tumpuan pemenuhan kebutuhan air sehari-hari bagi penduduk. Wonogiri yang kondisi tanahnya sebagian besar perbukitan memang banyak mengandung batu kapur. Jenis bebatuan ini sangat potensial untuk dibudidayakan menjadi gamping dan kalsit.

4.       Di desa Gebangharjo Kecamatan Pracimantoro yang menjadi pusat penelititan kawasan karst terdapat puluhan gua yang unik dan menakjubkan dan berdasarkan pebelitian para ahli sejarah dan geologi, kawasan gua-gua di Pracimantoro Wonogiri layak di jadikan sebagai situs Kawasan Karst yang unik di Indonesia. Coba cari tahu Gua apa sajakah? Jelaskan ! Di Desa Gebangharjo Kecamatan Pracimantoro – yang menjadi pusat penelitian kawasan karst – terdapat puluhan gua yang unik dan menakjubkan. Di sana terdapat Gua Tembus, Gua Mrica, Gua Sodong, Gua Potro, Gua Sapen, Gua Gilap, dan Gua Sonya Ruri. Berdasarkan penelitian para ahli sejarah dan geologi, kawasan gua-gua di Pracimantoro Wonogiri layak dijadikan sebagai situs Kawasan Karst yang unik di Indonesia. Wonogiri selatan yang topografinya berbukit-bukit dan terkenal sebagai deret pegunungan kapur selatan terdapat berpuluh-puluh gua. Gua-gua itu terbentuk karena adanya proses evolusi bumi dan pukulan arus air yang terus-menerus sepanjang tahun. Tak aneh jika di kawasan karst terdapat banyak aliran sungai, di antaranya masuk ke gua-gua menjadi sungai bawah tanah. Tak banyak orang yang tahu bahwa sungai legendaris Bengawan Solo – yang terpanjang di pulau Jawa – ternyata mata airnya berasal dari kawasan Pegunungan Seribu di wilayah Wonogiri Selatan.

5.       Lihatlah lokasi gua yang terbentuknya melongkar seperti stadion terbuka dengan dinding batuan karst. Jika dilihat dari atas gua ini sepintas stadion di bawah tanah. Dimanakah itu.,ambi gambarnya! Gua Gilap berada di Dusun Danggolo Desa Gebangharjo. Lokasi gua ini dari Gua Tembus berjarak 2 Km ke arah selatan.

6.       Setelah selesei buatlah laporan outdoor.

Laporan Percobaan Fisika Pada Pembiasaan Cahaya


Laporan Percobaan Fisika

Pembiasan

                               I.            Tujuan

1.      Memahami apa itu pembiasan serta penerapannya

                            II.            Alat dan bahan

1.      Komputer / Laptop
2.      Aplikasi untuk mencoba dari Phet Colorado



                         III.            Dasar Teori

Pembiasan cahaya adalah pembelokan cahaya ketika berkas cahaya melewati bidang batas dua medium yang berbeda indeks biasnya. Indeks bias mutlak suatu bahan adalah perbandingan kecepatan cahaya di ruang hampa dengan kecepatan cahaya di bahan tersebut. Indeks bias relatif merupakan perbandingan indeks bias dua medium berbeda. Indeks bias relatif medium kedua terhadap medium pertama adalah perbandingan indeks bias antara medium kedua dengan indeks bias medium pertama. Pembiasan cahaya menyebabkan kedalaman semu dan pemantulan sempurna.



pembiasan cahaya

Pembiasan cahaya pada antarmuka antara dua medium dengan indeks bias berbeda, dengan n2 > n1. Karena kecepatan cahaya lebih rendah di medium kedua (v2 < v1), sudut bias θ2 lebih kecil dari sudut datang θ1; dengan kata lain, berkas di medium berindeks lebih tinggi lebih dekat ke garis normal.
Hukum Snellius adalah rumus matematika yang meberikan hubungan antara sudut datang dan sudut bias pada cahaya atau gelombang lainnya yang melalui batas antara dua medium isotropik berbeda, seperti udara dan gelas. Nama hukum ini diambil dari matematikawan Belanda Willebrord Snellius, yang merupakan salah satu penemunya. Hukum ini juga dikenal sebagai Hukum Descartes atau Hukum Pembiasan.
Hukum ini menyebutkan bahwa nisbah sinus sudut datang dan sudut bias adalah konstan, yang tergantung pada medium. Perumusan lain yang ekivalen adalah nisbah sudut datang dan sudut bias sama dengan nisbah kecepatan cahaya pada kedua medium, yang sama dengan kebalikan nisbah indeks bias.
Perumusan matematis hukum Snellius adalah

rumus pembiasan

Lambang     merujuk pada sudut datang dan sudut bias,      dan    pada kecepatan cahaya sinar  datang dan sinar bias. Lambang n_1merujuk pada indeks bias medium yang dilalui sinar datang, sedangkan n_2adalah indeks bias medium yang dilalui sinar bias.
Hukum Snellius dapat digunakan untuk menghitung sudut datang atau sudut bias, dan dalam eksperimen untuk menghitung indeks bias suatu bahan.
Pada tahun 1637, Rene Descartes secara terpisah menggunakan argumen heuristik kekekalan momentum dalam bentuk sinus dalam tulisannya Discourse on Methoduntuk menjelaskan hukum ini.Cahaya dikatakan mempunyai kecepatan yang lebih tinggi pada medium yang lebih padat karena cahayaadalah gelombang yang timbul akibat terusiknya plenum, substansi kontinu yang membentuk alamsemesta. Dalam bahasa Perancis, hukum Snellius disebut la loi de Descartesatau loi de Snell-Descartes.
Sebelumnya, antara tahun 100 hingga 170 Ptolemeus dari Thebaid menemukan hubungan empiris sudut bias yang hanya akurat pada sudut kecil.Konsep hukum Snellius pertama kali dijelaskan secara matematis dengan akurat pada tahun 984 oleh Ibn Sahl dari Baghdaddalam manuskripnya On Burning Mirrors and Lenses. Dengan konsep tersebut Ibn Sahl mampu membuat lensa yang dapat memfokuskan cahaya tanpa aberasi geometri yang dikenal sebagai kanta asperik. Manuskrip Ibn Sahl ditemukan oleh Thomas Harriot pada tahun 1602, tetapi tidak dipublikasikan walaupun ia bekerja dengan Johannes Keppler pada bidang ini.
Pada tahun 1678, dalam Traité de la Lumiere, Christiaan Huygens menjelaskan hukum Snellius dari penurunan prinsip Huygenstentang sifat cahaya sebagai gelombang. Hukum Snellius dikatakan, berlaku hanya pada medium isotropik atau "teratur" pada kondisi cahaya monokromatik yang hanya mempunyai frekuensitunggal, sehingga bersifat reversibel. Hukum Snellius dijabarkan kembali dalam rasio sebagai berikut:




                               I.            Pengamatan



                             V.            Kesimpulan

                          VI.            Daftar Pustaka

Laporan Percobaan Fisika Pada Lensa Cembung


Laporan Percobaan Fisika

Pada Lensa Cembung



                               I.            Tujuan
1.      Memahami sifat-sifat lensa cembung

                            II.            Alat dan bahan

1.       Komputer / Laptop
2.       Aplikasi untuk mencoba dari Phet Colorado



                         III.            Dasar Teori


Lensa cembung memiliki bagian tengah yang lebih tebal daripada bagian tepinya. Sifat dari lensa ini adalah mengumpulkan sinar sehingga disebut juga lensa konvergen.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/c7/Lens_and_wavefronts.gif




Dari gambar di atas terlihat bahwa sinar bias mengumpul ke satu titik fokus di belakang lensa. Berbeda dengan cermin yang hanya memiliki satu titik fokus, lensa memiliki dua titik fokus. Titik fokus yang merupakan titik pertemuan sinar-sinar bias disebut fokus utama (http://latex.codecogs.com/gif.latex?%5Cinline%20f_%7B1%7D) disebut juga fokus aktif. Karena pada lensa cembung sinar bias berkumpul di belakang lensa maka letak http://latex.codecogs.com/gif.latex?%5Cinline%20f_%7B1%7D nya juga di belakang lensa. Sedangkan fokus pasif (http://latex.codecogs.com/gif.latex?%5Cinline%20f_%7B2%7D)simetris terhadap http://latex.codecogs.com/gif.latex?%5Cinline%20f_%7B1%7D. Untuk lensa cembung, letak http://latex.codecogs.com/gif.latex?%5Cinline%20f_%7B2%7D ini berada di depan lensa.



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh02tfqe-xR4pRcH_0ZxEbZocteYl4aN7l6aMa3OP36jwsai1W-p4Il9QdidoCFZIgUjOBSzMwJgx6MiQHsH1iWT7ioQTH-X6Zo-ODabrUxyjls3AaEspknAQk4-xzRcE8rt_usUDgEhqPE/s320/fokus+lensa+cembung.JPG



Sinar Istimewa Pada Lensa Cembung
Ada tiga tiga sinar istimewa pada lensa cembung.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhAiPyIEqtkXrzBeJLZP1yDtnlWWoPyT0VGWpbpyqlmqH0bprSLrElX4m2y6n7jTdoaMJN5Cyi8QpVtIMs2ah-3M2fJ7j6VeGXrEXAv5plQaA2hytQz26to6cMQTADnRr0I7CLyJ9hXqUgM/s320/sinar+istemewa+1.JPG1. Sinar sejajar sumbu utama dibiaskan melalui titik fokus F.





2. Sinar melalui F dibiaskan sejajar sumbu utama
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjLHbq9_uOFX-F7AQRb_PeOcs1mXErfodMtSxeMigUN6YQ_DUGEmjDSd9-fD3k9C2mx_1Zka9Xi8ZpgaLBJZaazrxCKfsU9uYZCHEJOhumzbFbTec-ih_Rmn36GNG7Uoy676wlZAN0JEuX/s320/sinar+istimewa+2.JPG




https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgWare6W39beMLwCIfXlocLytPiLnWOsFCq7u5iXY4c8z3-w-vvOhurvV1FLFCJdniCKzvCx5Sr9oKE2ASmCm9Th4DFd9yYMRnidnjdTc8jmr6lY_0RyEg-Wg4WnqOEzVtbZFagWj01rDKe/s320/sinar+istimewa+3.JPG3. Sinar melalui pusat optik tidak dibiaskan.






Langkah-langkah pembentukan bayangan pada lensa:

1. Lukis dua buah sinar istimewa (agar lebih sederhana gunakan sinar istimewa pada poin 1 dan 3)
2. Sinar selalu datang dari depan lensa dan dibiaskan ke belakang lensa. Perpanjangan sinar-sinar bias ke depan lensa dilukis sebagai garis putus-putus.
3. Perpotongan kedua buah sinar bias yang dilukis pada langkah 1 merupakan letak bayangan. Jika perpotongan didapat dari sinar bias, terjadi bayangan nyata, tetapi jika perpotongan didapat dari perpanjangan sinar bias, bayangan yang dihasilkan adalah maya.





                            V.            Pengamatan





Sifat bayangan: Nyata, terbalik, diperbesar.

Untuk letak benda pada ruangan lainnya anda bisa menggambarnya sendiri dengan memanfaatkan ketiga sinar istimewa yang telah dipaparkan di atas. Begitu juga dalam menentukan sifat bayangannya. Lihat contoh pada animasi di atas.
Selain dengan melukis bayangan , kita juga dapat menentukan sifat bayangan dengan menggunakan metode penomoran ruang berdasarkan aturan Esbach

Dalil Esbach untuk lensa:
Seperti pada pemantulan cahaya, pada pembiasan cahaya juga digunakan dalil Esbach untuk membantu Anda menentukan posisi dan sifat-sifat bayangan yang dibentuk oleh lensa positif. Untuk lensa nomor ruang untuk benda dan nomor ruang untuk bayangan dibedakan. Nomor ruang untuk benda menggunakan angka Romawi (I, II, III, dan IV), sedangkan untuk ruang bayangan  menggunakan angka Arab (1, 2, 3 dan 4) seperti pada gambar berikut ini:



Seperti tampak pada gambar 30 untuk ruang benda, ruang I antara pusat optik dan F2, ruang II antara F2 dan 2F2 serta ruang III di sebelah kiri 2F2, sedangkan ruang IV benda (untuk benda maya) ada di belakang lensa. Untuk ruang bayangan, ruang 1 antara pusat optik dan F1, ruang 2 antara F1 dan 2F1 serta ruang 3 di sebelah kanan 2F1, sedangkan ruang 4 (untuk bayangan maya) ada di depan lensa.
Sama seperti pada pemantulan cahaya pada cermin lengkung, posisi bayangan ditentukan dengan menjumlahkan nomor ruang benda dan nomor ruang bayangan, yakni harus sama dengan lima. Misalnya benda berada di ruang II, maka bayangan ada di ruang 3. Lengkapnya dalil Esbach untuk lensa dapat disimpulkan sebagai berikut.
Dalil Esbach
1.
2.
Jumlah nomor ruang benda dan nomor ruang bayangan sama dengan lima.
Untuk setiap benda nyata dan tegak:

a.

b.
Semua bayangan yang terletak di belakang lensa bersifat nyata dan terbalik.
Semua bayangan yang terletak di depan lensa bersifat maya dan tegak.
3.
Bila nomor ruang bayangan lebih besar dari nomor ruang benda, maka ukuran bayangan lebih besar dari bendanya dan sebaliknya.
Contoh:
Sebuah benda diletakkan pada jarak 25 cm di depan sebuah lensa positif yang fokus utamanya 10 cm. Tentukan sifat-sifat bayangan yang terbentuk!
Penyelesaian:
Dari data soal dapat disimpulkan bahwa benda diletakkan di ruang III, yakni di suatu titik antara 2F dan dan tak terhingga (lihat gambar 30 di atas). Oleh karena jumlah nomor ruang benda dan nomor ruang bayangan harus lima, berarti bayangan ada di ruang 2 (di belakang lensa). Jadi, sesuai dengan dalil Esbach sifat bayangan adalah nyata dan terbalik (karena di belakang lensa) serta diperkecil (nomor ruang bayangan lebih kecil dibandingkan nomor ruang benda).


                         VI.            Kesimpulan


                        VII.            Daftar Pustaka

http://fisikasma-online.blogspot.com/2010/04/pembiasan-cahaya-pada-lensa-cembung.html#ixzz1uHBfVX55 

 
| Disclaimer | Privacy Policy | Site Maps | Contact | About Copyright © 2015 Asik News